Kompromi Hati Nurani
Pengalaman pahit masa lalu, sakit hati yang tak kunjung hilang, atau rasa kecewa yang tak pernah bisa kompromi untuk menyingkir dari bilik hati, senantiasa menjadi beban hidup. Bahkan terbawa-bawa beban ini sepanjang hidup, kemana pun pergi, saat terpejam terlebih di saat sadar. Bayang-bayang orang-orang dari masa lalu yang pernah membuat hati tertusuk, tak pernah lenyap. Padahal segala upaya sudah dicoba untuk melupakannya, tetapi masih saja terus menggerayangi dan begitu dekat, menjadi iblis yang memporak porandakan tatanan jiwa.
Sakit hati, kecewa, perasaan bersalah, iri, kesal, benci, dan lain sebagainya muncul lantaran ego menstimulus otak untuk kemudian menyimpulkan bahwa keadaan sebagai masalah. Persepsi yang muncul setelah dipengaruhi ego jelas menyatakan bahwa keadaan yang tengah menimpa diri adalah masalah besar. Sehingga terus menerus pikiran terfokus pada dua hal; menghadapi masalah dan orang yang kita anggap telah menimbulkan masalah tersebut dan menempatkanya sebagai mahluk perusak hidup yang wajib untuk dimusuhi dan dilawan habis habisan, apapun caranya.
Mengizinkan hati nurani mengambil peran lebih dalam diri, untuk merencana, mengambil sikap, membuat keputusan, dan menentukan kemana arah akhir hidup. Masalahnya, selama ini ego yang terus menerus mendominasi diri. Hati nurani lebih berperan layaknya pahlawan kesiangan yang muncul belakangan, tepat satu langkah di belakang penyesalan. Kebenaran dan kesadaran dari nurani baru muncul setelah kita menyesal telah melakukan sebuah kesalahan. Dialog dua diri, antara ego dan hati nurani, bukan bicara kalah atau menang sebab seringkali hati nurani begitu mudah terkalahkan. Karena ego tidak datang sendirian, ia seringkali ditemani oleh kawan-kawannya antara lain, nafsu, ambisi, keserakahan, dan ketidakpuasan. Karenanya, dialognya hanya berupa penyelarasan mana yang lebih baik untuk diri; kompromi hati nuraniā¦
Ternyata tidak ada yang lebih nikmat daripada menyadari bahwa hidup amatlah indah untuk dilewatkan dalam kemuramanā¦
Loading...
aduh koq pas banget sih..apa yg q raskan skrng..
kita nikmati n syukuri aja..ini adlah anugrah dr Allah jg
q mohn ijin tuk mengutip tulisan ini..
terimakasih…
titi nurhayati - Oktober 3, 2009 at 5:32 am